Lebih baik menepi ke darat,
menata luka
Daripada berlayar
Memberikan utuh hatiku untukmu
Lebih baik menhindar
Padamkan harap
Daripada ku tetap di sampingmu
Memupuk cinta padamu
Karena hanya semakin membuat berat
Arti perpisahan,
Air mata akan terasa
Ringan untuk mengalir
Boleh kau menghina
Atas sikap pengecutku
Seandainya akua tak menghindarpun
Aku tahu jaln ini
Terlalu terjal utuk ku daki
Seorang diri
Kita ada di bumi yang berbeda
Akhirnya kata itu harus
Ku ucapkan
Selamat berpisah pangeran
Selamat menunaikan tugasmu
Arungi dan taklukan
Laut biru itu
* * *
Sunday, December 21, 2008
balada adik kakak
lahir ke dunia dari rahim yang sama
tapi nasib melemparkan
kita pada perpisahan
tempatmu-lah barat
di timur aku berpijak
sejak kita menemukan
belahan jiwa
waktu belari
kau mencatat kisahmu sendiri
di rantau
aku di sini bersama
ayah, ibu, adik kakak
saudara
hingga hari tua menyapa
kita hanya bertemu
dalam hitungan jari
timur dan barat
begitu
jauh jarak
lalu ajal menjemputmu
kau adikku yang manis
pergi mendahuluiku
tinggal rumah
kita di lahirkan
jadi saksi
kita kakak beradik
punya nasib
ku susuri pantai
yang pernah
kita jelajahi sebagai
gadis kecil
kini aku wanita senja
menyusuri pantai
seorang diri
tak ada lagi dirimu kini
ternyata hidup
hanya seperti ini
untuk kita
sebagai
kakak-beradik
* * *
tapi nasib melemparkan
kita pada perpisahan
tempatmu-lah barat
di timur aku berpijak
sejak kita menemukan
belahan jiwa
waktu belari
kau mencatat kisahmu sendiri
di rantau
aku di sini bersama
ayah, ibu, adik kakak
saudara
hingga hari tua menyapa
kita hanya bertemu
dalam hitungan jari
timur dan barat
begitu
jauh jarak
lalu ajal menjemputmu
kau adikku yang manis
pergi mendahuluiku
tinggal rumah
kita di lahirkan
jadi saksi
kita kakak beradik
punya nasib
ku susuri pantai
yang pernah
kita jelajahi sebagai
gadis kecil
kini aku wanita senja
menyusuri pantai
seorang diri
tak ada lagi dirimu kini
ternyata hidup
hanya seperti ini
untuk kita
sebagai
kakak-beradik
* * *
happy mother's day
Mah, selamat hari ibu
Ini hari ibu pertama tanpmu
Mah, dunia sangat sunyi tanpamu
Aku tak memiliki banyak teman
Tapi kehadiranmu seorang diri
Di sisiku lebih baik dari
Aku memiliki banyak teman
Kau melindungi aku, mengerti diriku
Menerimaku, walaupun aku salah
Memaafkanku walau aku
Mengecewaakn hatimu
Mah, aku rindu kau di sisiku
Setiap aku dalam perjalanan
Pulang, aku merasa sedih
Karena tak ada lagi dirimu
Yang akn membukakan pintu
Untukku
Tak ada lagi dirimu
Yang akan mendengarkan ceritaku
Tak ada lagi tawamu
tapi kau selalu
ada di hatiku
aku selalu
menangis setiap ingat padamu
aku masih ingin melewati hari
bersamamu mah
aku masih ingin
merayakan hari ibu denganmu
mah, aku bangga dan bahagia
engkau adalah ibuku
engkau adalah
ibu terbaik yang
pernah aku temui
selamat hari ibu, mah
Ini hari ibu pertama tanpmu
Mah, dunia sangat sunyi tanpamu
Aku tak memiliki banyak teman
Tapi kehadiranmu seorang diri
Di sisiku lebih baik dari
Aku memiliki banyak teman
Kau melindungi aku, mengerti diriku
Menerimaku, walaupun aku salah
Memaafkanku walau aku
Mengecewaakn hatimu
Mah, aku rindu kau di sisiku
Setiap aku dalam perjalanan
Pulang, aku merasa sedih
Karena tak ada lagi dirimu
Yang akn membukakan pintu
Untukku
Tak ada lagi dirimu
Yang akan mendengarkan ceritaku
Tak ada lagi tawamu
tapi kau selalu
ada di hatiku
aku selalu
menangis setiap ingat padamu
aku masih ingin melewati hari
bersamamu mah
aku masih ingin
merayakan hari ibu denganmu
mah, aku bangga dan bahagia
engkau adalah ibuku
engkau adalah
ibu terbaik yang
pernah aku temui
selamat hari ibu, mah
Wednesday, December 17, 2008
lowongan kerja
Ada empat lowongan kerja dengan jenis pekeraan berbeda yang aku lingkari. Ke-empat lowongan tersebut adalah sales, penjaga warnet, penjaga toko kue dan waitress. Meski berbeda jenis pekerjaan namun ke-empatnya memiliki satu kesamaan yaitu menyediakan mess atau tempat tinggal.
Tempat tinggal, itulah hal yang paling kubutuhkan saat ini. Aku baru datang dari kampungku kemarin pagi dengan uang seratus lima puluh ribu. Sementara kost di Jakarta paling murah tiga ratus ribu. Karena itulah aku tertarik dengan ke-empat lowongan tersebut dan kalau bisa yang langsung kerja mengingat minimnya keuanganku.
Saat ini aku ikut temanku. Temanku ini tinggal bersama pacarnya. Baru satu malam menumpang saja,membuatku tak sanggup melewatkan malam keduaku bersamanya. Aku risih dengan kemesraan yang merekaa perlihatkan.Mungkin juga iri. Entahlah.
Jam enam pagi saat temanku dan pacarnya masih tidur nyenyak aku sudah siap melamar kerja. Rencanaku mendatangi langsung ake-empat lowongan kerja tersebut. Karenanya aku harus berangkat pagi-pagi supaya bisa menjangkau ke-empatnya sekaligus.
Langkah awal aku menelpon lowongan sebagai penjaga warnet. Menanyakan dengan jelas lokasinya, patokannya dan mobil untuk menvcpainya. Kebetulan lokasinya berdekatan dengan lowongan sebagai sales. Jadi aku bisa menuju kedua lokasi tanpa harus berputar-putar.
Dua jam kemudian aku menemukan lokasinya. Tapi aku kecewa karena hanya disuruh meninggalkan berkas lamaran saja. Tidak ada wawancara seperti yang aku harapkan. Rasanya tak ada harapan untuk diterima. Maka lamarannya aku ambil kembali dengan alasan kurang lengkap.
Aku kembali mencari wartel.Kali ini menelpon lowongan sebagai sales. Tapi lagi-lagi aku dibuat kecewa karena tertnyata lamaran harus disertai izazah aslli. Sementara aku tidak membawanya.
Kini tinggal dua pilihan, penjaga kue di Mangga besar dan waitress di grogol. Dua tahun yang lalu aku sempat kerja di Jakarta sehingga sediki hapal jalan di Jakarta.
Aku sempat beberapa kali main ke Mall Ciputra dan lowongan sebagai waitress menyebutkan letaknya di belakang Mall Ciputra tentu tidak sulit mencarinya. Sealin itu ditulis langsung kerja sementara di Mangga besar aku belum tahu lokasinya sebelah mana. Dan belum tentu langsung kerja. Mengingat keuanganku semakin menipis maka kuputuskan untuk ke Grogol saja yang langsung kerja.
Ketika kutelpon yang menjawab suara laki-laki dengan logat Jawa yang kental. Aku disuruhnya datang jam tujuh malam, Saat itu baru jam dua siang masih banyak waktu untuk istirahat. Karena perutku mulai kelaparan maka akupun bergegas mencari makan.
Di samping Mall Ciputra dekat kampus Taruma Negara bederet penjual makanan aneka rupa. Setelah berputar-putar membaca nama makanan akhirnya pilihanku jatuh pada gado-gado dan sebotol minuman dingin.
Usai makan aku memutuskan menunggu waktu di toko buku Gramedia yang terletak di lantai lima Mall Ciputra. Aku membaca banyak buku meki tidak sampai selesai. Mulai dari Novel, majalah,dan tabloid gosip.
Puas membaca aku meniggalkan toko buku Gramedia. Saat itu sudah jam enam sore.Keluar dari Mall Ciputra adalah perempatan. Aku memilih jalur yang dilewati busway dalam pencarianku. Aku bertanya pada para pedagang yang berjajar sepanjang jalan dimanakah jalan Daan mogot berada, tapi tak satupun yang tahu letaknya.
Aku menyebrang ke kanan balik lagi ke kiri. Masuk keluar artel untuk menanyakan lletak pastinya.Sang Penerima telpon kali ini wanita. Nada suaranya tidak bersahabat. Ia tidak banyak membantu. Setiap kutanya patokannya ia selalu menjawab. ”tanya aja jalan Daan Mogot, masuk ke dalam, nah diantara ruko-ruko itu kamu cari yang tulisannya Nindya, itulah tempatnya,” begitu selalu jawabnya.
Ada perasaan sedih menyelusup batinku. Hari mulai gelap, lampu-lampu sudah dinyalakan orang –orang sudah pulang beraktivitas sementara aku baru mau memulai. Kendaraan ramai menderu. Namaun aku merasa sepi dan sendiri.Merasa sangat kecil dan tak berarti.
Aku terus berjalan dan bertanya sempat juga timbul rasa takut. Rasa takut berjalan sendirian dan rasa takut menjalani kerja yang aku tidak tahu seperti apa. Rasanya aku ingin pulang saja ;ke tempat kost temanku namun keinginan untuk tidak menginap lagi di kostnya lebih kuat daripada ketakutanku menghadapi kerja yang entah seperti apa.
Akhirnya ada juga yang tahu dimana jalan Daan Mogot berada. Orang itu adalah tukang rokok. Aku sangat berterima kasih padanya. Seumur hidup aku tidak pernah sesenang dan selega saat ini. Semangatku bangkit.
Tak berapa jauh aku melangkah aku menemukan gapura bertuliskan Jalan Daan Mogot. Sesuai petunjuk si penerima telpon aku masuk kedalamnya. Mataku dengan teliti mengawasi satu demi satu bangunan yang aku lewati.
Dan tibalah aku di sana. Lampu merah berkelap-kelip mengelilingi tulisan Nindya. Kalau tadi aku begitu ingin segera menemukannya maka sekarang saat akiu menemukannya aku merasa lebih suka saat mencarinya. Aku jadi teringat pepatah ”Keluar dari kandang buaya masuk ke sarang Harimau”. Seperti itulah aku mengibaratkan diriku saat ini.
Setelah menarik dan mengeluarkan napas dalam-dalam akupun masuk. Jantungku berdebar-debar. Suasana masih sepi. Namun sudah ada beberapa wanita yang memakai baju tank top yang ;sedang asik berdandan. Aku menghampiri yang paling dekat. ”Permisi mbak, saya mau melamar jadi waitress,” kataku pada seorang wanita yang berambut pendek berwarna pirang. Bulu matanmya panjang dan lentik sekali. Di hidungnya yang mancung terdapa sebuah anting.
”Waitress sudah terisi semua. Tinggal bar girl,” jawabnya. Suaranya langsung aku kenal sebagai si penerima telpon.
“Bar girl?” ulangku, aku benar-benar tidak tahu pekerjaannya apa dan baagaimana.
“Iya nemenin tamu.” Ia menjawab rasa ingin tahuku. Sambil terus melanjutkan berdandan tanpa melihat ke arahku. ”Udah dandan sana’” usirnya ketika ia melihatku masih berdiri kebingungan.
Akupun duduk di depannya. Pososi bangkunya seperti di pesawat terbang. Ada kaca besar yang menempel di dinding setiap bangku. Di kaca dalam remang-remang cahaya lampu wajah lelahku tergambar jelas. Aku belum mandi. Rambutku bau matahari. Bedakpun sepertinya enggan melekat di wajahku yang penuh debu setelah seharian keliling Jakarta. Mulai dari kostan temanku di Jakarta utara lalu ke Jakarta timur sekarang aku di Jakarta barat.
Tak lama muncullah Desi, begitu ia mengenalkan adiri. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ada wibawa dari setiap kata-katanya. Tegas dan keras.
”Tugas kamu nemenin tamu. Usahakan aminta minum. Apapun itu jenisnya. Mau bir aatau soft drink terserah. Kita tidak ngasih gaji. Kamu dapat uang dari setiap tamu yang kamu temenin. Dan itu kamu minta sendiri atau dikasih oleh tamunya. Kalau kamu bisa diajak tidur taripnya seratus enam puluh ribu. Enam puluh ribu buat kamar seratus ribu buat kamu. Bersih tanpa potongan. Lantai dua diskotik kalau kamu tidak dapat tamu di sini kamu bisa ke lantai dua. Lantai tiga tempat check in. Dan lantai empat mess.Kamu bisa tinggal di mess kalau mau. Gratis.Apa semuanya jelas,” tanyanya.
Aku mengangguk.
”Ok kamu diterima. Mari aku kenalkan sama teman-teman kamu yang lain,” ajaknya.
Entah apa yang akan terjadi padaku malam ini. Namun satu yang sudah pasti satu lowongan kerja di Jakarta sudah terisi.
Tempat tinggal, itulah hal yang paling kubutuhkan saat ini. Aku baru datang dari kampungku kemarin pagi dengan uang seratus lima puluh ribu. Sementara kost di Jakarta paling murah tiga ratus ribu. Karena itulah aku tertarik dengan ke-empat lowongan tersebut dan kalau bisa yang langsung kerja mengingat minimnya keuanganku.
Saat ini aku ikut temanku. Temanku ini tinggal bersama pacarnya. Baru satu malam menumpang saja,membuatku tak sanggup melewatkan malam keduaku bersamanya. Aku risih dengan kemesraan yang merekaa perlihatkan.Mungkin juga iri. Entahlah.
Jam enam pagi saat temanku dan pacarnya masih tidur nyenyak aku sudah siap melamar kerja. Rencanaku mendatangi langsung ake-empat lowongan kerja tersebut. Karenanya aku harus berangkat pagi-pagi supaya bisa menjangkau ke-empatnya sekaligus.
Langkah awal aku menelpon lowongan sebagai penjaga warnet. Menanyakan dengan jelas lokasinya, patokannya dan mobil untuk menvcpainya. Kebetulan lokasinya berdekatan dengan lowongan sebagai sales. Jadi aku bisa menuju kedua lokasi tanpa harus berputar-putar.
Dua jam kemudian aku menemukan lokasinya. Tapi aku kecewa karena hanya disuruh meninggalkan berkas lamaran saja. Tidak ada wawancara seperti yang aku harapkan. Rasanya tak ada harapan untuk diterima. Maka lamarannya aku ambil kembali dengan alasan kurang lengkap.
Aku kembali mencari wartel.Kali ini menelpon lowongan sebagai sales. Tapi lagi-lagi aku dibuat kecewa karena tertnyata lamaran harus disertai izazah aslli. Sementara aku tidak membawanya.
Kini tinggal dua pilihan, penjaga kue di Mangga besar dan waitress di grogol. Dua tahun yang lalu aku sempat kerja di Jakarta sehingga sediki hapal jalan di Jakarta.
Aku sempat beberapa kali main ke Mall Ciputra dan lowongan sebagai waitress menyebutkan letaknya di belakang Mall Ciputra tentu tidak sulit mencarinya. Sealin itu ditulis langsung kerja sementara di Mangga besar aku belum tahu lokasinya sebelah mana. Dan belum tentu langsung kerja. Mengingat keuanganku semakin menipis maka kuputuskan untuk ke Grogol saja yang langsung kerja.
Ketika kutelpon yang menjawab suara laki-laki dengan logat Jawa yang kental. Aku disuruhnya datang jam tujuh malam, Saat itu baru jam dua siang masih banyak waktu untuk istirahat. Karena perutku mulai kelaparan maka akupun bergegas mencari makan.
Di samping Mall Ciputra dekat kampus Taruma Negara bederet penjual makanan aneka rupa. Setelah berputar-putar membaca nama makanan akhirnya pilihanku jatuh pada gado-gado dan sebotol minuman dingin.
Usai makan aku memutuskan menunggu waktu di toko buku Gramedia yang terletak di lantai lima Mall Ciputra. Aku membaca banyak buku meki tidak sampai selesai. Mulai dari Novel, majalah,dan tabloid gosip.
Puas membaca aku meniggalkan toko buku Gramedia. Saat itu sudah jam enam sore.Keluar dari Mall Ciputra adalah perempatan. Aku memilih jalur yang dilewati busway dalam pencarianku. Aku bertanya pada para pedagang yang berjajar sepanjang jalan dimanakah jalan Daan mogot berada, tapi tak satupun yang tahu letaknya.
Aku menyebrang ke kanan balik lagi ke kiri. Masuk keluar artel untuk menanyakan lletak pastinya.Sang Penerima telpon kali ini wanita. Nada suaranya tidak bersahabat. Ia tidak banyak membantu. Setiap kutanya patokannya ia selalu menjawab. ”tanya aja jalan Daan Mogot, masuk ke dalam, nah diantara ruko-ruko itu kamu cari yang tulisannya Nindya, itulah tempatnya,” begitu selalu jawabnya.
Ada perasaan sedih menyelusup batinku. Hari mulai gelap, lampu-lampu sudah dinyalakan orang –orang sudah pulang beraktivitas sementara aku baru mau memulai. Kendaraan ramai menderu. Namaun aku merasa sepi dan sendiri.Merasa sangat kecil dan tak berarti.
Aku terus berjalan dan bertanya sempat juga timbul rasa takut. Rasa takut berjalan sendirian dan rasa takut menjalani kerja yang aku tidak tahu seperti apa. Rasanya aku ingin pulang saja ;ke tempat kost temanku namun keinginan untuk tidak menginap lagi di kostnya lebih kuat daripada ketakutanku menghadapi kerja yang entah seperti apa.
Akhirnya ada juga yang tahu dimana jalan Daan Mogot berada. Orang itu adalah tukang rokok. Aku sangat berterima kasih padanya. Seumur hidup aku tidak pernah sesenang dan selega saat ini. Semangatku bangkit.
Tak berapa jauh aku melangkah aku menemukan gapura bertuliskan Jalan Daan Mogot. Sesuai petunjuk si penerima telpon aku masuk kedalamnya. Mataku dengan teliti mengawasi satu demi satu bangunan yang aku lewati.
Dan tibalah aku di sana. Lampu merah berkelap-kelip mengelilingi tulisan Nindya. Kalau tadi aku begitu ingin segera menemukannya maka sekarang saat akiu menemukannya aku merasa lebih suka saat mencarinya. Aku jadi teringat pepatah ”Keluar dari kandang buaya masuk ke sarang Harimau”. Seperti itulah aku mengibaratkan diriku saat ini.
Setelah menarik dan mengeluarkan napas dalam-dalam akupun masuk. Jantungku berdebar-debar. Suasana masih sepi. Namun sudah ada beberapa wanita yang memakai baju tank top yang ;sedang asik berdandan. Aku menghampiri yang paling dekat. ”Permisi mbak, saya mau melamar jadi waitress,” kataku pada seorang wanita yang berambut pendek berwarna pirang. Bulu matanmya panjang dan lentik sekali. Di hidungnya yang mancung terdapa sebuah anting.
”Waitress sudah terisi semua. Tinggal bar girl,” jawabnya. Suaranya langsung aku kenal sebagai si penerima telpon.
“Bar girl?” ulangku, aku benar-benar tidak tahu pekerjaannya apa dan baagaimana.
“Iya nemenin tamu.” Ia menjawab rasa ingin tahuku. Sambil terus melanjutkan berdandan tanpa melihat ke arahku. ”Udah dandan sana’” usirnya ketika ia melihatku masih berdiri kebingungan.
Akupun duduk di depannya. Pososi bangkunya seperti di pesawat terbang. Ada kaca besar yang menempel di dinding setiap bangku. Di kaca dalam remang-remang cahaya lampu wajah lelahku tergambar jelas. Aku belum mandi. Rambutku bau matahari. Bedakpun sepertinya enggan melekat di wajahku yang penuh debu setelah seharian keliling Jakarta. Mulai dari kostan temanku di Jakarta utara lalu ke Jakarta timur sekarang aku di Jakarta barat.
Tak lama muncullah Desi, begitu ia mengenalkan adiri. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ada wibawa dari setiap kata-katanya. Tegas dan keras.
”Tugas kamu nemenin tamu. Usahakan aminta minum. Apapun itu jenisnya. Mau bir aatau soft drink terserah. Kita tidak ngasih gaji. Kamu dapat uang dari setiap tamu yang kamu temenin. Dan itu kamu minta sendiri atau dikasih oleh tamunya. Kalau kamu bisa diajak tidur taripnya seratus enam puluh ribu. Enam puluh ribu buat kamar seratus ribu buat kamu. Bersih tanpa potongan. Lantai dua diskotik kalau kamu tidak dapat tamu di sini kamu bisa ke lantai dua. Lantai tiga tempat check in. Dan lantai empat mess.Kamu bisa tinggal di mess kalau mau. Gratis.Apa semuanya jelas,” tanyanya.
Aku mengangguk.
”Ok kamu diterima. Mari aku kenalkan sama teman-teman kamu yang lain,” ajaknya.
Entah apa yang akan terjadi padaku malam ini. Namun satu yang sudah pasti satu lowongan kerja di Jakarta sudah terisi.
Tuesday, December 16, 2008
surat untuk G
Surat untuk g
G, apa kabarmu hari ini?saat ini di jendela kamarku ku melihat langit berwarna biru, sementara hatiku berwarna kelabu.Aku lelah menunggu. Tak sanggup lagi menghabiskan sisa hidupku tanpamu. Aku ingin melukiskan perasaanku padamu. Setiap hari aku bangun tidur, rutinitas yang sama ku ulangi.tanganku terampil karenanya. Mencuci pakaian, mencuci piring, memasak, mengepel lantai, mennyetrika baju, makan, minum, mandi. Sesekali ke rumah teman, ke rumah saudara. Di datangi teman, di datangi saudara. Ke mini market, membeli bedak, handbody, shampo, sabun,camilan dan remeh temeh lain. Sesekali ke perpustakan,meminjam buku, ke warnet, kantor pos mengirim karya-karyaku, meski entah kapan akan di muat. Ke counter hp mengisi pulsa untuk menelpon dan sms kamu. Aku bergerak melakukan banyak aktivitas, bertemu banyak orang. Tapi pikiran tentangmu tetap ada. Ruang sepi tak jua terbunuh. Aku hampa tanpamu. Aku ingin ada di sampingmu. Agar bisa kau cium,kau sentuh, kau raba, kau puji. Aku merasa diriku ada berada dekatmu.
G,aku ingin berlari ke padamu.aku hapal setiap gang menuju rumahmu.cat rumahmu, no rumahmu,semua aku tahu. Tapi aku adalah tahanan orang tuaku. Tak ada jalan untukku berlari menemuimu.kita berbeda. Orang tuaku tak suka perbedaan kita.Aku tak perduli, aku hanya tahu aku sayang dan ingin berbagi hidup denganmu.Air mataku seperti sungai yang mengalir deras, menantimu tak kunjung tiba. Ku kirimkan surat ini padamu agar kau mau mencari jalan membebaskanku dari belenggu ini.
G, apa kabarmu hari ini?saat ini di jendela kamarku ku melihat langit berwarna biru, sementara hatiku berwarna kelabu.Aku lelah menunggu. Tak sanggup lagi menghabiskan sisa hidupku tanpamu. Aku ingin melukiskan perasaanku padamu. Setiap hari aku bangun tidur, rutinitas yang sama ku ulangi.tanganku terampil karenanya. Mencuci pakaian, mencuci piring, memasak, mengepel lantai, mennyetrika baju, makan, minum, mandi. Sesekali ke rumah teman, ke rumah saudara. Di datangi teman, di datangi saudara. Ke mini market, membeli bedak, handbody, shampo, sabun,camilan dan remeh temeh lain. Sesekali ke perpustakan,meminjam buku, ke warnet, kantor pos mengirim karya-karyaku, meski entah kapan akan di muat. Ke counter hp mengisi pulsa untuk menelpon dan sms kamu. Aku bergerak melakukan banyak aktivitas, bertemu banyak orang. Tapi pikiran tentangmu tetap ada. Ruang sepi tak jua terbunuh. Aku hampa tanpamu. Aku ingin ada di sampingmu. Agar bisa kau cium,kau sentuh, kau raba, kau puji. Aku merasa diriku ada berada dekatmu.
G,aku ingin berlari ke padamu.aku hapal setiap gang menuju rumahmu.cat rumahmu, no rumahmu,semua aku tahu. Tapi aku adalah tahanan orang tuaku. Tak ada jalan untukku berlari menemuimu.kita berbeda. Orang tuaku tak suka perbedaan kita.Aku tak perduli, aku hanya tahu aku sayang dan ingin berbagi hidup denganmu.Air mataku seperti sungai yang mengalir deras, menantimu tak kunjung tiba. Ku kirimkan surat ini padamu agar kau mau mencari jalan membebaskanku dari belenggu ini.
puisi
Secangkir kopi
Secangkir kopi adalah inspirasi
Secangkir kopi adalah semangaat
Secangkir kopi adalah teman
Secangkir kopi, kuinginkan tiap hari
* * *110604
Secangkir kopi adalah inspirasi
Secangkir kopi adalah semangaat
Secangkir kopi adalah teman
Secangkir kopi, kuinginkan tiap hari
* * *110604
puisi
Khayal
Kemarin sempat kujelajahi tubuhmu
Meski hanya dalam khayal
Semuanya kubayangkan liar,
Namun hari ini
Aku sanggup emmbakar khayal itu
Toh, harap pun sudah berlalu
* * *160205
Pilihan
Selalu begitu, kau perlakukan aku
Kau pikir menunggu mengasyikan
Ingin aku tak menyalahkanmu
Lalu pada siapa salah ini seharudnya diajukan
Akukah, waktu, orang tuamu
Entah, mungkin ini kesalahan kita semua
Aku jengah, kau tahu?
Bisakah kita saling melupakan dan menyudahi
Saja kesalahan ini
Lalu biarkan aku,
Kau, kita melangkah
Mungkin di depan kita menemui kebenara
Yang seharusnya
Jadi, putuskanlah, hal yang hanya
Dua pillihan itu:
Memilihku, atau lepaskan aku!
* * *160205
jawablah!
Semua tanya ku alamatkan padamu, maaf
Aku butuh jawaban
Jawablah, meski llllluka sungguh
Aku tahu aku tangguh
Sejak hari-hari berlari
Menghampiriku tanpamu
Aku tahu seribu tanyaku
Akan kau jawab dengan luka
Segunung harapan yang ku punya
telah terkikis waktu
jadi, biar luas jalan ini, Katakanlah!
Isi hatimu sesungguhnya
Kita toh belum jauh melangkah
Kau memiliki hak mencabut kata-katamu
Seperti menjilat ludah sendiri,
Tapi, tak apalah
Begitu lebih baik
Daripada kau gantung aku
Itu tak menyenangkan, kau tahu!
* * * 160205
Kemarin sempat kujelajahi tubuhmu
Meski hanya dalam khayal
Semuanya kubayangkan liar,
Namun hari ini
Aku sanggup emmbakar khayal itu
Toh, harap pun sudah berlalu
* * *160205
Pilihan
Selalu begitu, kau perlakukan aku
Kau pikir menunggu mengasyikan
Ingin aku tak menyalahkanmu
Lalu pada siapa salah ini seharudnya diajukan
Akukah, waktu, orang tuamu
Entah, mungkin ini kesalahan kita semua
Aku jengah, kau tahu?
Bisakah kita saling melupakan dan menyudahi
Saja kesalahan ini
Lalu biarkan aku,
Kau, kita melangkah
Mungkin di depan kita menemui kebenara
Yang seharusnya
Jadi, putuskanlah, hal yang hanya
Dua pillihan itu:
Memilihku, atau lepaskan aku!
* * *160205
jawablah!
Semua tanya ku alamatkan padamu, maaf
Aku butuh jawaban
Jawablah, meski llllluka sungguh
Aku tahu aku tangguh
Sejak hari-hari berlari
Menghampiriku tanpamu
Aku tahu seribu tanyaku
Akan kau jawab dengan luka
Segunung harapan yang ku punya
telah terkikis waktu
jadi, biar luas jalan ini, Katakanlah!
Isi hatimu sesungguhnya
Kita toh belum jauh melangkah
Kau memiliki hak mencabut kata-katamu
Seperti menjilat ludah sendiri,
Tapi, tak apalah
Begitu lebih baik
Daripada kau gantung aku
Itu tak menyenangkan, kau tahu!
* * * 160205
Subscribe to:
Posts (Atom)
